Langsung ke konten utama

Papua ??? Yes, We Have Batik


Papua ??? Yes, We Have Batik
by : Huwaida Najla Alaudina

Hi guys, you met me again here, and of course with a lot more to know with me. Now, I would like to tell you about an interesting story about Papua. Well, you know about Papua, don’t you?. I believe all of you will nod your head, right ?. Ok, just to remind you. Papua is the largest province of Indonesia,  located in the center of the Papua island or the eastern part of West New Guinea (Irian Jaya).
Eemmh… don’t you know that actually Papua has so many cultures ?. And one of them is Batik. Moreover, UNESCO has even declared Batik as an object of cultural heritage produced by Indonesia. So,  batik is not only  from Java island but also from the rest of Indonesia. We can find various kinds of Batik. Even Papua itself also has Batik as its cultural heritage.

So, what is so distinctive of Papua’s Batik and that of  other ethnical batik ?. Ok, here I’ll tell you. It is clear enough that Papua’s Batik has different characteristic from the others. The characteristic of Papua’s Batik is  on its striking- eye catching color, with the motif of Cendrawasih Birds, tifa ( the traditional music instrument from Papua), and Asmat carving motif. Awesome, right?
Because of that, so many people from outside Papua really love this kind of Papua’s Batik. Not only that, some foreigners are also interested in Papua’s Batik, because it is really unique. So, if you still think that Papua is an isolated region and doesn’t have any interesting things, you ARE totally WRONG !!!!.  




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meteorologi dari Berbagai Sudut Pandang

Meteorologi dari Berbagai Sudut Pandang Meteorologi, kira-kira apa yang tergambar dipikiran anda saat  mendengar kata itu. Mungkin kata itu masih terdengar asing bagi sebagian orang. Bahkan dulu sekali saya pernah ditanya oleh orang, "kamu besok mau masuk jurusan apa di ITB?" lantas aku pun menjawab, "Aku mau masuk jurusan Meteorologi." Sejenak, air muka sang penanya mendadak berubah terkejut. Seolah menayakan, alasan mengapa aku mau masuk prodi yang jarang sekali diminati banyak orang. "Meteorologi? Kenapa nggak masuk ke Geologi atau Geodesi? Jarang sekali loh  aku dengar banyak orang yang ngambil Meteorlogi dipilihan pertama jursannya. Emang di Meteorologi mau belajar apa? Meteor?" Mendengar perkataan itu saya hanya tersenyum dan tertawa kecil. Lantas saya pun menjawab, "Alasan saya kenapa saya milih Meteorologi karena saya bukan orang yang mainstream. Jurusan2 itu sudah terlalu mainstream, terlebih lagi diseluruh universitas di Indonesia ke...

Winter Spring "Hanabi"

Winter Spring “Hanabi” Wina, Austria, Present Time Waktu terus berputar. Detik berganti menit. Menit berganti Jam. Jam berganti hari dan seterusnya. Hingga aku pun tak menyadari jika aku sudah 5 jam lamanya di dalam studioku. Jika ini semua bukan gara-gara permintaan bosku yang aneh untuk meminta soundtrack tambahan untuk game online kami yang terbaru. Aku pun melonjak kegirangan ketika proses programming musik yang kubuat akhirnya selesai juga. Aku pun segera melepas headset yang terpasang ditelingaku dan meregangkan punggungku. Ketika aku keluar dari ruanganku, aku pun mengerjapkan mata sejenak. Berusaha untuk mengadaptasikan indera penglihatanku dengan cahaya terang ruang tamu rumahku. Aku pun duduk sejenak dan mengambil ipad yang kuletakkan di atas meja. Mencoba untuk mencari file soundtrack musik yang baru saja aku selesaikan setelah sekian jam lamanya aku mendekam di ruang studio pribadiku. Aku pun semakin tersenyum bahagia, ketika aku berhasil mengupload hasil kary...

"Behind The Mirror" Chapter 6

aaa ”Ah akhirnya sampai juga kita disini.” Kata Karin sambil menunjukkan cengiran khasnya. ”Hah !!!..., suara ribut-ribut apa sih diluar !, mengganggu saja !” Teriak seseorang dari dalam rumah dan kemudian membuka pintu untuk melihat-lihat keadaan sekeliling. ”Halo Tuan Karim !!!, lama sekali tak berjumpa !, hahaha !” Teriak Karin. ”Heeeh ?, ternyata kau dan Freya, hm...lalu siapa ini.” Kata seseorang kakek-kakek yang memakai topi ala manusia gunung dan sedang memincingkan ke-2 matanya kearah Aline. ”Astaga !, kau sudah lupa ya !, ini adalah cicit dari Alexander. Keturunan Alexandria. Kau ingat ?” Jawab Karin meyakinkan kakek tua itu. ”Alexander ???, ahh...aku ingat !. Jadi ini adalah cicit Alexander, kalau begitu mari masuk !” Kata Tuan Karim sambil menyunggingkan senyumannya. ”Baik Tuan Karim !!!” ”Heeh..., sudah kubilang jangan panggil aku Tuan, panggil aku kakek saja.” Sahut Kakek tersebut sembari masuk kedalam rumahnya yang kemudian dieekori oleh Aline. ”Sekar...